Sunah, Makruh & Pembatal Wudlu – Catatan Ngaji ke 4 Kitab Fathul Lathif

Cepoko, 4 Ramadhan 1441 H. Berikut ini adalah seklumit catatan Pengajian Pasanan hari ke-4 kitab Fathul Lathif, karya Syaikh Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan Madura, yang dibacakan oleh Gus Muhamad Zulfal Arif.

Pada Pengajian yang lalu menjelaskan tentang : SYARAT CEBOK DENGAN BATU & RUKUN WUDLU

dan Kali ini menjelaskan tentang : SUNAH, MAKRUH & PEMBATAL WUDLU

1. SUNAH-SUNAH WUDLU

وَمَا سِوَى الْفُرُوْضِ الْمَذْكُوْرَةِ سُنَّةٌ وَهِيَ كَثِيْرَةٌ، مِنْهَا: اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَالتَّسْمِيَةُ، وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ، وَالْمَضْمَضَةُ، وَالْاِسْتِنْشَاقُ، وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ، وَمَسْحُ الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنٰى عَلَى الْيُسْرٰى، وَتَطْوِيْلُ الْغُرَّةِ، وَالتَّحْجِيْلُ، وَالْمُوَالَاةُ، وَتَثْلِيْثُ الْغَسْلَةِ وَالْمَسْحِ، وَتَرْكُ الْكَلَامِ فِي الْوُضُوْءِ، وَأَنْ يَّقُوْلَ عَقِبَهُ قَآئِمًا مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Selain dari semua yang difardlukan (baca; Rukun Wudlu) adalah sunah-sunah dalam wdulu dan jumlahnya ada banyak, di antaranya sebagai berikut:

  1. Menghadap kiblat
  2. Bersiwak
  3. Baca bismillahirrohamanirrohin
  4. Membasuh kedua telap tangan
  5. Berkumur
  6. Memasukkan air dalam hidung
  7. Mengusap semua kepala
  8. Mengusap telinga, luar & dalam
  9. Mendahulukan anggota kanan & mengakhirkan anggota kiri
  10. Meluaskan cakupan basuhan wajah
  11. Meluaskan cakupan basuhan tangan dan kaki
  12. Terus menerus
  13. Mengulangi membasuh dan mengusap tiga kali
  14. Tidak berbicara selama wudlu
  15. Setelah wdulu membaca doa berikut dengan berdiri menghadap kiblat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

وَيَجِبُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلىٰ وَاجِبٍ لِضَيْقِ وَقْتٍ وَلِقِلَّةِ الْمَآءِ، وَيُنْدَبُ لِإِدْرَاكِ الْجَمَاعَةِ

Diwajibkan mempersingkap wudlu yaitu hanya dengan mengerjakan yang fardlu saja (meninggalkan yang sunah) Ketika:

  1. Waktu sholat tinggal sedikit/hampir habis
  2. Karena air yang digunakan sangat sedikit (hanya cukup untuk basuhan wajib saja)

Dan hukumnya sunah mempersingkat wudlu Ketika terburu-buru ingin mendapat fadliha berjama’ah.

2. MAKRUH-MAKRUH WUDLU

وَمَكْرُوْهَاتُهُ سَبْعٌ: الْإِسْرُافُ فِي الْمَآءِ، وَتَقْدِيْمُ الْيُسْرٰى عَلَى الْيُمْنٰى، وَمُجَاوَزَةُ الثَّلَاثَةِ فِي الْغَسْلِ وَالْمَسْحِ، وَالنَّقْصُ عَنْهَا فِيْهِمَا، وَالْمُبَالَغَةُ فِي الْمَضْمَضَةِ وَالْاِسْتِنْشَاقِ لِلصَّآئِمِ، وَالْاِسْتِعَانَةُ بِمَنْ يُطَهِّرُ أَعْضَآءَهُ، وَالتَّنْشِيْفُ لِغَيْرِ عُذْرٍ

Hal-hal yang dimakruhkan dalam wudlu:

  1. Berlebih-lebihan menggunakan air
  2. Mendahulukan anggota kiri dan mengakhirkan yang kanan
  3. Membasuh dan mengusap lebih dari 3 kali
  4. Membasuh dan mengusap kurang dari 3 kali
  5. Berlebih-lebihhan dalam berkumur dan memasukkan dalam hidung bagi orang yang sedang puasa
  6. Minta bantuan orang lain untuk mensucikan anggotanya
  7. Mengelap basuhan wudlu dengan tanpa ‘udzur

3. PEMBATAL WUDLU

وَالَّذِي يُبْطِلُ الْوُضُوْءَ خَمْسَةٌ: اَلْخَارِجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ: رِيْحٌ أَوْ غَيْرُهُ، وَزَوَالُ الْعَقْلِ بِجُنُوْنٍ أَوْ مَرَضٍ، وَالنَّوْمُ إِلَّا أَنْ يَّنَامَ قَاعِدًا مُمَكِّنًا مَقْعَدَهُ مِنَ الْأَرْضِ، وَالْتِقَآءُ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيْرَيْنِ أَجْنَبِيَيْنِ مِنْ غَيْرِ حَآئِلٍ، وَمَسُّ قُبُلِ الْأَدَمِيِّ أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الْكَفِّ أَوْ بُطُوْنِ الْأَصَابِعِ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهِ

Hal-hal yang membatalkan wudlu:

  1. Keluarnya sesuatu dari salah satu kedua kelamin (depan/belakang), baik berupa angin atau yang lain
  2. Hilangnya akal sebab gila atau sakit
  3. Kecuali jika tidur dengan duduk dan menekan pantat ke lantai
  4. Bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa serta bukan mahrom dengan tanpa pemisah
  5. Menyentuh qubul (kelamin depan) manusia atau menyentuh lingkaran duburnya menggunakan telapak tangan atau jari-jari bagian dalam (bukan yang atas) yang disentuh baik milik sendiri atau milik orang lain.

وَمَنْ تَيَقَّنَ الْحَدَثَ وَشَكَّ فِي الْوُضُوْءِ فَهُوَ عَلَى الْحَدَثِ. وَمَنْ تَيَقَّنَ الْوُضُوْءَ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ فَهُوَ عَلَى الْوُضُوْءِ

Apabila ada orang meyakini bahwa dia sudah hadats dan ia ragu sudah wudlu lagi atau belum, maka ia dihukumi berhadats. Sebaliknya, apabila ada orang yang menyakini sudah berwudlu namun ia ragu sudah hadats atau belum, maka ia dihukumi tetap berwudlu.

Tentang Kami

Yayasan Pondok Pesantren Baitul Atieq adalah lembaga pendidikan agama Islam bermanhaj Ahlus Sunah Wal Jama’ah Annahdliyah (NU) terletak di lereng gunung Wilis, tepatnya di desa Cepoko, kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk. Dirintis oleh Alm. KH. Ahmad Thohir Musthofa (1960-2018) sejak tahun 1992.

Ayo Mondok & Sekolah!