Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb

  1. Bagaimana hukumnya berkurban sekalius akikah?
  2. Kalau boleh, lantas bagaimana pembagiannya? Mengingat daging kurban dibagikan dalam kondisi mentah sedangkan akikah dibagikan dalam kondisi sudah matang.

Terimakasih, wassalamu’alaikum wr wb

Jawab

Assalamu’alaikum wr wb

Bissmillahirrohmanirrohim. Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rosulillah

Dalam madzhab syafi’I paling tidak terdapat dua pendapat mengenai pertanyaan di atas;

  1. Tidak Boleh

Menurut Imam Ibnu Hajar tidak boleh berkurban sekaligus akikah. Bahkan jika tetap dilakukan maka keduanya tidak sah.

لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيْقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا وَهُوَ ظَاهِرٌ؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُوْدَةٌ وَلِأَنَّ الْقَصْدَ بِالْأُضْحِيَّةِ الضِّيَافَةُ الْعَامَّةُ وَمِنَ الْعَقِيْقَةِ الضِّيَافَةُ الْخَاصَّةُ وَلِأَنَّهُمَا يَخْتَلِفَانِ فِي مَسَائِلَ. – تحفة المحتاج في شرح المنهاج (9/ 370)

“apabila ada orang menyembelih satu kambing dengan niat kurban sekaligus akikah, maka keduanya tidak sah. Karena masing-masing hukumnya sunah dengan tujuan tersendiri; tujuan kurban adalah menjamu secara umum sedangkan akikah bertujuan menjamu secara khusus. Serta keduanya mempunyai permasalahan sendiri-sendiri. – tuhfatul muhtaj fi syarhil Minhaj (9/370)

  1. Boleh

Menyembelih kambing/sapi/unta dengan niat kurban sekaligus menurut Imam Romli hukumnya boleh dan sah.

وَلَوْ نَوَى بِالشَّاةِ الْمَذْبُوحَةِ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ حَصَلَا خِلَافًا لِمَنْ زَعَمَ خِلَافَهُ. – نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (8/ 146)

“Apabila seseorang meniatkan kambing yang disembelih untuk kurban sekaligus akikah, maka kedua-duanya hukumnya sah. Berbeda menurut ulama yang berpendapat sebaliknya (tidak sah). – nihayatul muhtaj ila syarhil Minhaj (8/146)

B. Pembagian daging yang diniatkan kurban sekaligus akikah adalah dengan diberikan secara mentah, yakni mengikuti tata cara pembagian hewan kurban. Karena daging kurban harus diberikan dalam keadaan mentah sedangkan daging akikah dibagikan dalam kondisi matang hukumnya sebatas afdloliyah (bersifat lebih utamanya).

وَيَجِبُ التَّصَدُّقُ وَلَوْ عَلَى فَقِيْرٍ وَاحِدٍ بِشَيْءٍ نِيْئًا. – فتح المعين (ص: 303)

“wajib mensedekahkan daging kurban dalam kondisi masih mentah, meskipun diberikan pada satu orang fakir.” – fathul mu’in (303)

وَيُشْتَرَطُ فِي اللَّحْمِ أَنْ يَكُوْنَ نِيْئًا لِيَتَصَرَّفَ فِيْهِ مَنْ يَأْخُذُهُ بِمَا شَآءَ مِنْ بَيْعٍ أَوْ غَيْرِهِ. – حاشية الباجوري (4/383)

“Disyaratkan daging kurban yang diberikan dalam kondisi masih mentah, supaya bisa digunakan sesuai keinginan penerinya, baik dijual atau yang lain.” – hasyiyah bajuri (4/383)

وَالتَّصَدُّقُ بِمَطْبُوْخٍ يَبْعَثُهُ إِلَى الْفُقَرَاءِ: أَحَبُّ مِنْ نِدَائِهِمْ إِلَيْهَا وَمِنَ التَّصَدُّقِ نِيْئًا. ­- فتح المعين (ص: 304)

“Mensedekahkan daging akikah dalam kondisi sudah matang dan diantar kepada orang fakir itu lebih disukai (dalam agama) dibanding; mengundang orang-orang fakir dan diberikan masih mentah.” – fathul mu’in (304)

Waallahu a’lam bisshowab

Wassalamu’alaikum wr wb

Sumberurip, 26/7/2020

Alfaqir m. zulfal arif

khuwaidimul ‘ilm pp baitul atieq

Tentang Kami

Yayasan Pondok Pesantren Baitul Atieq adalah lembaga pendidikan agama Islam bermanhaj Ahlus Sunah Wal Jama’ah Annahdliyah (NU) terletak di lereng gunung Wilis, tepatnya di desa Cepoko, kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk. Dirintis oleh Alm. KH. Ahmad Thohir Musthofa (1960-2018) sejak tahun 1992.

Ayo Mondok & Sekolah!