Wahsyi adalah orang yang membunuh sayyidina Hamzah bin Abdul Muthollib r.a, paman Nabi Muhammad ﷺ. Orang yang sangat dicintai oleh Beliau.

Wahsyi adalah putra Halb. ia berasal dari Habasyah, (sekarang kira-kira Etiopia,) awalnya ia adalah budak Jubair bin Muth’im bin ‘Adi.

Wahsyi berani bahkan tega betul membunuh kekasih Nabi ﷺ pada saat perang Uhud. Paling tidak karena terprovokasi dua hal: Pertama karena ia dijanji akan dimerdekakan oleh majikannya apabila bisa membunuh Hamzah r.a sebagai ganti karena hamzah telah membunuh Thu’aimah bin ‘Adi paman Jubair. Kedua karena terprovokasi oleh Hindun.

Wahsyi membunuh Hamzah r.a dengan penuh sangat keji. Saking kejinya, setelah ia berhasil membunuh Hamzah r.a, ia lantas membedah perut Hamzah r.a kemudian mengambil limpanya kemudian diserahkan kepada Hindun binti ‘Utbah ibunda Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Lantas limpa Hamzah r.a dikunyah mentah-mentah oleh Hindun. Setalh dikunyah lantas diludahkannya.

Namun siapa sangka, ternyata setelah melakukan pembunuhan tersebut. Wahsyi akhirnya mendapat hidayah dari Allah Ta’ala, sehingga ia memberanikan diri untuk menemui nabi Muhammad ﷺ untuk menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasulnya.

Menurut riwayat Ibnu Abas r.a. : Ketika Wahsyi masih berada di Makah, ia mengirim surat kepada Nabi ﷺ yang isinya;

“Saya ingin masuk Islam. Namun saya tidak bisa masuk Islam karena terhalangi oleh ayat:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚوَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا. (الفرقان 68)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). Alquran 25:68

Karena saya pernah melakukan 3 hal dalam tersebut: Menyekutukan Allah, Membunuh tanpa hak dan berzina.

Apakah taubat saya bisa diterima?”

Maka turunlah ayat:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا. (الفرقان 70)

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Alquran 25:70

Ayat tersebut dikirim Nabi kepada Wahsyi.

Melihat jawab Nabi seperti itu, lantas Wahsyi mengirim surat lagi kepada Nabi:

“Nabi, dalam ayat tersebut disebutkan ada satu syarat yaitu harus berbuat amal baik. Dan saya tidak tau apakah saya mampu berbuat baik atau tidak?”

Maka turunlah ayat:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ(النسآء 48)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” Alquran 4:48

Dan ayat tersebut dikirim Nabi kepada Wahsyi.

Kemudian Wahsyi mengirim surat lagi kepada Nabi:

“Nabi, dalam ayat tersebut masih ada syarat juga: yang diampuni adalah orang-orang yang dikehendaki untuk diampuni. Sedangkan saya tidak tau, apakah Allah berkenan mengampuni saya atau tidak?”

Maka turunlah ayat berikut:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الزمر 53)

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Quran Az ZUmar 53

Ayat tersebut dikirim Nabi kepada Wahsyi.

Dan dalam ayat terakhir ini, Wahsyi tidak menemukan syarat apapun supaya taubatnya diterima. Akhirnya Wahsyi berangkat menuju ke Madinah untuk menemui Nabi dan menyatakan taubatnya.

Ketika Wahsyi sudah tiba menemui Nabi ﷺ. Ia ditanya oleh Nabi:

قَالَ: «أَنْتَ وَحْشِيٌّ» ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟» قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الأَمْرِ مَا بَلَغَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «أَمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي»

“Apakah kamu Wahsyi?”. “iya, saya Wahsyi.” “Apakah kamu membunuh Hamzah?” “iya betul seperti Anda ketahui.” “kalau begitu, apakah kamu bisa tidak memperlihatkan wajahmu lagi kepadaku.?”

Wahsyi diusir oleh Nabi ﷺ. karena setiap kali Nabi ﷺ melihat wajah Wahsyi, Beliau selalu terbayang-bayang kekejian yang ia lakukaan kepada paman yang sangat Beliu cintai. Dan akhirnya Wahsyi pun pergi.

Setalah Nabi ﷺ sudah wafat, muncullah Musailamah Alkadzab. Wahsyi pun berkeinginan Untuk menebus kesalahan yang telah ia dilakukan ketika ia masih kafir, yakni membunuh sebaik-baik manusia, yaitu orang yang sangat dicintai Nabi ﷺ. Maka ketika sudah Islam, ia harus menebusnya dengan membunuh Musailamah yaitu seburuk-buruk manusia.


Refrensi:

  • Alquran
  • Sirojut Tholibin
  • Siroh Ibnu Hisyam
  • Maktabah Syamilah

 

Cepoko, 5/8/2020

alhaqir wal faqir

m. zulfal arif

khuwaidimul ‘ilm pp.baitul atieq

Tentang Kami

Yayasan Pondok Pesantren Baitul Atieq adalah lembaga pendidikan agama Islam bermanhaj Ahlus Sunah Wal Jama’ah Annahdliyah (NU) terletak di lereng gunung Wilis, tepatnya di desa Cepoko, kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk. Dirintis oleh Alm. KH. Ahmad Thohir Musthofa (1960-2018) sejak tahun 1992.

Ayo Mondok & Sekolah!